Pendidikan Terkoyak Tambang: Derita SMA Negeri 8 Bungo di Tengah Gempuran PETI
LIPUTAN KRIMINAL KHUSUS
Bungo, Jambi — Ironi tengah menganga di jantung Kabupaten Bungo. Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang kian merajalela tak hanya merusak bentang alam dan mencemari lingkungan, namun kini telah menodai ruang suci pendidikan. Di tengah hiruk-pikuk mesin tambang, suara guru nyaris tenggelam. Konsentrasi siswa pun tercerai-berai, tergerus dentuman alat berat yang mengguncang dinding sekolah.

Kondisi memilukan ini terjadi di SMA Negeri 8 Bungo, Kecamatan Rantau Pandan. Sekolah yang seharusnya menjadi benteng peradaban kini terjepit di antara ambisi tambang ilegal dan kelalaian aparat. Aktivitas PETI berlangsung hanya selemparan batu dari tembok sekolah, menciptakan suasana gaduh yang mengusik proses belajar mengajar.
Haikal, salah satu siswa, mengungkapkan keresahannya. “Kami sulit fokus. Suara mesin dari alat berat sangat mengganggu. Rasanya seperti belajar di tengah proyek pembangunan, bukan di sekolah,” keluhnya lirih.
Kondisi ini bukan hanya soal kebisingan. Rosmarini, Humas SMA Negeri 8 Bungo, menuturkan bahwa pihak sekolah telah berulang kali mengadukan hal ini kepada Datuk Rio dan Camat setempat. Namun, respons yang diharapkan tak kunjung datang. “Kami sudah meminta bantuan, tapi seolah tak digubris. Aktivitas PETI tetap berjalan, bahkan makin dekat ke sekolah,” ujarnya dengan nada kecewa.
Lebih menyedihkan lagi, saat musim hujan tiba, sekolah ini turut menjadi korban banjir akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan PETI. “Air masuk hingga selutut orang dewasa, bercampur lumpur. Anak-anak terpaksa belajar dalam kondisi yang tidak layak,” tambah Rosmarini.
Pihak sekolah dan masyarakat kini hanya bisa berharap pada ketegasan Pemerintah Kabupaten Bungo dan aparat penegak hukum. Mereka mendesak agar pelaku PETI dan para bekingnya segera ditindak tegas. Sebab, jika pendidikan terus dikorbankan demi tambang ilegal, maka generasi masa depan akan tumbuh di atas reruntuhan harapan.(Dyan)**






