Liputan Khusus Kriminal
Beranda Peristiwa Jerit Malam dari Kembang Seri Baru: Rumah Hangus, Damkar Lumpuh, Warga Bertanya—Siapa yang Peduli?

Jerit Malam dari Kembang Seri Baru: Rumah Hangus, Damkar Lumpuh, Warga Bertanya—Siapa yang Peduli?

Kembang Seri Baru, Jambi — Senin malam, sekitar pukul 19.30 WIB, langit di atas RT 10, Kelurahan Kembang Seri Baru, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, memerah bukan karena senja, melainkan karena kobaran api yang melahap satu rumah warga hingga tak bersisa. Di tengah kepanikan dan jeritan minta tolong, warga hanya bisa berlarian dengan ember dan selang seadanya, mencoba melawan amukan api yang tak kenal ampun. Namun yang paling menyayat hati bukan hanya rumah yang terbakar, melainkan kenyataan pahit bahwa mobil pemadam kebakaran milik pemerintah kota tak kunjung datang—karena rusak.

Api yang diduga berasal dari korsleting listrik itu menjalar cepat, membakar atap, dinding, dan seluruh isi rumah. Dalam hitungan menit, tempat tinggal yang selama ini menjadi saksi bisu kehidupan keluarga itu berubah menjadi abu. Tak ada yang bisa diselamatkan. Tidak pakaian, tidak surat-surat penting, tidak pula kenangan. Yang tersisa hanya puing-puing hangus dan mata-mata sembab yang memandangi reruntuhan dengan getir.

Warga yang berkerumun di lokasi tak mampu menyembunyikan amarah dan kecewa. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin di tengah kota sebesar Jambi, mobil pemadam kebakaran bisa rusak saat dibutuhkan? Bukankah seharusnya alat penyelamat itu selalu siaga, selalu siap menjadi garda terdepan saat nyawa dan harta dipertaruhkan? Malam itu, warga merasa sendiri. Negara seolah absen. Yang tersisa hanya solidaritas sesama, saling bantu dengan tangan kosong melawan api yang menggila.

Seorang warga yang turut membantu memadamkan api dengan air sumur berkata lirih, “Kami sudah teriak-teriak, berharap bantuan datang. Tapi sampai rumah itu habis, tak ada satu pun mobil damkar yang muncul. Katanya rusak. Lalu, kalau begini, siapa yang bisa kami andalkan?”

Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah kota. Bukan hanya soal kesiapan armada, tapi juga soal kepercayaan publik yang mulai retak. Warga tak butuh janji manis atau seremonial belaka. Mereka butuh sistem yang bekerja. Butuh perlindungan nyata. Butuh kehadiran negara, bukan hanya dalam pidato, tapi dalam tindakan.

Kini, keluarga korban harus memulai segalanya dari nol. Tanpa rumah, tanpa harta, hanya berbekal semangat dan uluran tangan tetangga. Tapi luka batin yang ditinggalkan oleh peristiwa ini tak akan mudah sembuh. Karena lebih dari sekadar kehilangan materi, mereka kehilangan rasa aman. Dan itu, tak bisa dibeli kembali.

Kembang Seri Baru telah memberi peringatan. Jangan tunggu rumah berikutnya terbakar untuk menyadari bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, tapi kewajiban. Karena ketika api datang, waktu bukan sekadar detik—ia adalah batas antara selamat dan musnah.(Siti)**

Komentar
Bagikan:

Iklan